Senin, 08 Juni 2015

PEMANDIAN AIR DINGIN DAN PANTAI PASIR PUTIH ACEH SELATAN



Rasanya belum lengkap jika kita berbicara tentang Aceh Selatan hanya sebatas Gua Meucanang saja. Tau sendirikan, selain gua tersebut, Aceh Selatan juga menyimpan begitu banyak destinasi wisata yang sayang apabila dilewatkan begitu saja. Cerita legenda yang merebak di masyarakat terhadap setiap lokasi wisata yang ada di Aceh Selatan menjadi tambahan daya tarik pada setiap lokasi tersebut.
Pada tulisan kali ini, kita akan membahas tentang pemandian air dingin yang berlokasi di desa Lhok Pawoh, Kecataman Sawang, Kabupaten Aceh Selatan. Biasanya tempat wisata ini ramai dikunjungi warga pada hari libur meskipun di hari-hari biasanya juga banyak orang yang berkunjung kesana. Objek Wisata yang ramai dikunjungi masyarakat setempat maupun pendatang ini memiliki area pemandian yang luas dengan air dingin yang dapat memberikan nuansa kesejukan yang menyegarkan. Selain itu, pemandangan yang indah juga bisa didapatkan wisatawan ketika mendaki sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi di area lokasi pemandian tersebut yang merupakan  tempat yang menjadi sumber mengalirnya air terjun yang dingin itu.
Dari atas bukit, akan kita dapatkan pemandangan alam yang memanjakan setiap mata yang memandangnya yang tak akan pernah terlupakan oleh siapapun yang pernah melihatnya. Laut biru yang indah serta hamparan pasir putih bak permadani yang terbentang di alam luas.
Objek wisata yang berlokasi sekitar 30 kilometer dari Kota Tapak Tuan ini merupakan salah satu tujuan wisata bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Selain mudah dijangkau karena berlokasi di pinggiran jalan raya Blang Pidie - Tapak Tuan, di kawasan ini juga terdapat sejumlah rumah makan dan cafe yang menyediakan berbagai ragam makanan dan minuman untuk memanjakan lidah para pecinta kuliner. Mushalla untuk tempat ibadah bagi muslim pun menjadi fasilitas yang tersedia dengan terjaga kebersihannya dan tertata rapi. Air terjun yang indah, bebatuan yang besar dan tinggi menjadi ciri khas objek wisata ini.
Disamping pemandian air dingin yang dingin yang melenakan tersebut, tak jauh dari kawasan ini juga terdapat pantai yang berpasir putih, cukup dengan hanya menyeberangi jalan raya para pengunjung sudah bisa menikmati pantai berpasir putih yang sangat indah. Air lautnya yang biru dapat menenangkan hati. Apalagi bagi yang sedang galau. Hehe...
Di pantai ini kita tak hanya dibuat puas oleh kemilau birunya lautan, tapi wisatawan juga dapat berselancar di lautnya, karena ombaknya yang besar tapi tidak membahayakan. Biasanya yang berselancar adalah wisatawan asing yang datang dari berbagai negara walaupun ada satu dua wisatawan domestik yang ikut berselancar di tempat ini.
Siapapun boleh berkunjung kedaerah itu, karena tempatnya terbuka untuk umum. Hanya saja pengunjung diharapkan untuk tidak terlalu gaduh (ria, Aceh-red) ditempat ini. Apabila setiap tempat wisata di Aceh Selatan memiliki legenda yang unik, maka itu tidak dapat kita dengar di kawasan wisata ini karena tempat ini lahir tanpa legenda.
(sumber cerita: Musfira, mahasiswa Hukum Ekonomi Syari'ah, UIN Ar-Raniry-Banda Aceh)

Minggu, 07 Juni 2015

GUA BATEE MEUCANANG

Begitu Banyak tempat wisata yang menyajikan berbagai suguhan menarik untuk di nikmati di Aceh, seperti objek wisata gua yang selama ini kurang terekspose keluar. Padahal cukup banyak gua yang di miliki oleh provinsi Aceh, yang cukup menarik untuk di kunjungi. Beberapa dari gua tersebut seperti di Aceh Tengah yang merupakan tempat tinggal nya manusia purba pada zaman prasejarah.
            Gua-gua di Aceh masih jarang di kunjungi, bahkan tidak banyak di ketahui oleh masyarakat itu sendiri. Salah satu nya adalah “GUA BATEE MEUCANANG”. Gua ini terletak di Kecamatan Labuhan Haji Barat, Aceh selatan. Gua ini terletak di hutan belantara Taman Nasional Gunung Lauser yang masih sangat lebat.
            Untuk dapat mencapai lokasi Gua Batee Meucanang, perjalanan yang di tempuh kurang lebih 30 menit dari Blang Kejeren, ibukota Kecamatan Labuhan Haji Barat. Setengah perjalanan sampaididesa terakhir, yaitu Desa Pulokan, jalan yang di lalui sangat mulus, tetapi untuk selanjutnya jalan akan di penuhi batu, untuk melaluinya sangat di butuhkan kehati-hatian karena jalannya lumayan ekstrim. Untuk menuju gua, kita dapat menggunakan kendaraan bermotor, dan bahkan sekarang sudah bisa di lalui mobil karena ukuran jalannya sudah di perlebar untuk mempermudah melaluinya.
Gua Batee Meucanang ini keberadaannya cukup tersembunyi, jadi yang perlu dilakukan oleh para pengunjung yang belum tahu tempatnya adalah menanyakan kepada penduduk sekitar yang melakukan aktivitas dan kepada orang-orang yang berlalu lalang di jalan menuju gua. Saat sampai di lokasi Gua Batee Meucanang, kita harus mendaki sebuah bukit terjal yang ketinggiannya kira-kita 10 meter karena gua tersebut berada di atas sebuah bukit.
            Gua Batee Meucanang ini berukuran kira-kira 20 meter persegi dengan tinggi 15 meter, gua ini memiliki dua pintu masuk, pintu masuk pertama sangat sempit, hanya muat untuk satu orang, sedangkan untuk pintu kedua sangat lebar yang juga merupakan pintu keluarnya. Untuk bisa menikmati ornamen dan keindahan di dalam gua, kita harus menyiapkan senter untuk penerangan, karena di dalam gua agak sedikit gelap. Sejarahnya, nama Gua Batee Meucanang itu berasal dari batu yang menggantung di sisi gua, dan yang uniknya dari batu ini adalah apabila batu ini diketuk atau dipukul akan mengeluarkan suara seperti suara alat musik canang, dan canang tersebut adalah salah satu alat musik tradisional Aceh. Di dalam gua juga terdapat sebuah celah batu berbentuk telapak kaki kiri, konon katanya celah batu tersebut merupakan tapak dari seorang Aulia yang melakukan pertapaan di gua tersebut.
            Puas menelusuri di dalam gua, kita pun pergi keluar gua sejenak untuk menikmati pemandangan alam pegunungan yang indah dan masih alami. Bukan itu saja,kita juga bisa melihat ataupun menikmati aliran air sungai yang sangat sejuk dan jernih, sungai tersebut tepat berada di depan gua. Di samping itu, kita juga dapat melaksanakan shalat di mushalla yang memang tersedia tak jauh dari lokasi gua atau sekedar beristirahat sambil menikmati air terjun dan gemercik air pada bebatuan sungai yang berada bersebelahan dengan pondok- pondok kecil. Dan yang terpenting, untuk dapat mengunjungi tempat ini, kita tidak memerlukan biaya masuk, alias gratis.

(oleh: Muchlisin, Mahasiswa Hukum Ekonomi Syari'ah UIN Ar-Raniry Banda Aceh)